STRUKTUR PRODUKSI, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN
A.
STRUKTUR PRODUKSI
Struktur produksi adalah logika proses
produksi, yang menyatakan hubungan antara beberapa pekerjaan pembuatan komponen
sampai menjadi produk akhir, yang biasanya ditunjukkan dengan menggunakan
skema. Struktur produksi nasional dapat dilihat menurut lapangan usaha dan
hasil produksi kegiatan ekonomi nasional. Berdasarkan lapangan usaha struktur
produksi nasional terdiri dari sebelas lapangan usaha dan berdasarkan hasil
produksi nasional terdiri dari 3 sektor, yakni
a.
sektor primer,
b.
sekunder, dan
c.
tersier.
Sejalan dengan perkembangan pembangunan ekonomi struktur produksi
suatu perekonomian cenderung mengalami perubahan dari dominasi sektor primer
menuju dominasi sektor sekunder dan tersier. Perubahan
struktur produksi dapat terjadi karena :
·
Sifat manusia dalam perilaku
konsumsinya yang cenderung berubah dari konsumsi barang barang pertanian menuju
konsumsi lebih banyak barang-barang
industri
·
Perubahan teknologi yang
terus-menerus, dan
·
Semakin meningkatnya keuntungan
komparatif dalam memproduksi barang-barang industri.
Struktur produksi nasional pada awal tahun
pembangunan jangka panjang ditandai oleh peranan sektor primer, tersier, dan
industri. Sejalan dengan semakin meningkatnya proses pembangunan ekonomi maka
pada akhir Pelita V atau kedua, struktur produksi nasional telah bergeser dari
dominasi sektor primer menuju sektor sekunder.
B.
PERUBAHAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Perhitungan distribusi pendapatan di Indonesia
menggunakan data survei sosial ekonomi nasional (susenas) pada tahun 1984,
1987, 1990, 1993. data pengeluaran konsumsi rumah tangga yang dikumpulakan oleh
susenas digunakan sebagai pendekatan (proxy) untuk mengukur distribusi
pendapatan penduduk di Indonesia. Karena pengertian pengeluaran konsumsi tidak
sama dengan pengertian kekayaan, perbedaan konsep ini menjadi kendala serius
dalam mengukur secara akurat tingkat dan distribusi kesejahteraan masyarakat
Indonesia. Karena bisa saja seseorang tidak punya pekerjaan (pendapatan),
tetapi sangat kaya karena ada warisan keluarga. Banyak pengusaha muda dari
tingkat pendapatanya tidak terlalu berlebihan, tetapi mereka sangat kaya karena
perusahaan tempat mereka bekerja adalah milik mereka (orang tuanya).
Penggunaan data pengeluaran konsumsi rumah
tangga akan menghasilkandata pendapatan yang underestimate karena jumlah
pendapatan bia lebih besar, sama, atau lebih kecil dari pada jumlah pengeluaran
konsumsi. Misalnya pendapatan lebih besar tidak selalu berarti pengeluaran
konsumsi juga besar. Dalam hal ini, berarti ada tabungan. Dalam hal ini belum
tentu juga bila pendapatan rendah tidak selalu jumlah konsumsi juga rendah.
Banyak rumah tangga memakai kredit untuk membiayai pengeluran konsumsi
tertentu, misalnya untuk membeli rumah dan mobil untuk biaya sekolah anak, atau
bahkan untuk liburan.
Keberhasilan pembangunan di Indonesia tidak
hanya di ukur dari peningkatan pendapatan penduduk secara agregat atau per
capital, tetapi juga (justru lebih penting lagi) di lihat dari distribusi
peningkatan pendapatan tersebut terhadap semua anggota masyarakat. Sekarang
ini, tingkat pendapatan per kapital di Indonesia sudah lebih jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu, yakni sekitar US$880. namun, apa
artinya jika 10% saja dari jumlah penduduk di tanah air yang manikmati 90% dari
jumlah pendapatan nasional, sedangkan sisanya (90%) hanya menikmati 10&
dari pendapatan nasional selama ini hanya di nikmati oleh kelompok 10% tersebut,
sedangkan pendapatan kelompok 90% tidak mengalami perbaikan yang berarti. Jadi
dalam kata lain, pembangunan ekonomi di Indonesia akan dikatakan berhasil
sepenuhnya bila tingkat kesenjangan ekonomi antara kelompok masyarakat miskin
dan kelompok masyarakat kaya bisa diperkecil Sejak akhir tahun 1970-an,
pemerintah maulai memperliatkan kesugguhan dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan penduduk ditanah air. Sejak itu aspek pemerataan dalam triologi
pembangunan semakin ditekankan dan didefinisikan dalam delapan jalur
pemerataan. Sudah banyak program pemerintahan hingga saat ini yang mecerminkan
upaya tersebut, seperti program serta kebijakan yang mendukung pembangunan
industri kecil dan rumah tangga serta koperasi, khususnya dipedesaan, inpres
desa tertinggal (IDT), program keluarga sejahtera, program keluarga berencana
(KB), program maka tambahan bagi anak sekolah dasar, program transmigrasi,
peningkatan upah minimum regional (UMR), dan masih banyak lagi.
Menurut kriteria Bank Dunia, secara umum
tingkat kesenjangan dalam distibusi pendapatan di Indonesia selama kurun waktu
1984-1993 tergolong rendah, baik didaerah pedesaan maupun daerah perkotaan yang
ditunjukan oleh besarnyapersentase pendapatan yang dinikmati oleh kelompok
penduduk 40% berpenghasilan rendah. Bagi kelompok penduduk 20% berpendapatan
tinggi, besar pendapatanya yang diterima justru mengalami penurunan. Penurunan
pangsa pendapatan ini karena laju pertumbuhan pendapatan kelompok penduduk 40%
berpendapat rendah dan 40% berpendapat menengah lebih besar dari pada laju
pertumbuhan pendapatan kelompok penduduk 20% berpendapat tinggi.
Tingkat pemerataan pendapatan di daerah
pedesaan yang relatif lebih baik dari pada didaerah perkotaan juga terjadi
hamper disemua propinsi di Indonesia. Semakin buruknya distribusi pendapatan di
daerah perkotaan dibandingkan didaerah pedesaan terutama disebabkan oleh pola
perekonmian dan jumlah serta kondisi sarana dan prasarana pendukung kegiatan
ekonomi sangat berbeda antara pedesaan dan perkotaan. Dikota, Jakarta misalnya
persaingan dalam dunia usaha dan dalam mendapatkan pekerjaan semakin keras.
Jumlah manusia dijakarta semakin keras. Jumlah manusia dijakarta semakin
banyaki, diperkirakan sekita sepuluh juta orang, yang sebagian disebabkan oleh
orang-orang yang terus datang ke Jakarta terutama yang berasal dari Jawa dan
Sumatra. Sementara kemanapun ekonomi Jakarta untuk memberi pekerjaan bagi
pencari kerja yang bertambah jumlahnya setiap tahun terbatas. Terjadi
perpindahan surplus tenaga kerja dari desa ke kota. Mereka tidak bisa ditampung
disektor formal akhirnya masuk ke sector informal yang pada umumnya merupakan
kegiatan ekonomi dengan tingkat produktivitas dan pendapatan rendah. Karena
terlalu banyak orang yang mau bekerja disektor formal, sedangkan daya tamping sector
tersebut terbatas maka semakin berat seleksi penerimaan pekerja.
Pendidikan atau keterampilan khusus menjadi
salah satu kriteria utama dalam seleksi tenaga kerja disektor formal. Jumlah
penganggruan, terutama setengah pengangguran, semakin tinggi, dan kesenjangan
antara kelompok masyarakat yang mempunyai kesempatan bekerja disektor formal
dan kelompok masyarakat yang hanya bisa bekerja disektor informal atau yang
tidak memiliki pekerjaan semakin besar.
C.
DISTRIBUSI PENDAPATAN NASIONAL &
KEMISKINAN
a. KEMISKINAN
Masalah
besar yang dihadapi negara sedang berkembang adalah disparitas (ketimpangan)
distribusi pendapatan dan tingkat kemiskinan. Tidak meratanya distribusi
pendapatan memicu terjadinya ketimpangan pendapatan yang merupakan awal dari
munculnya masalah kemiskinan. Membiarkan kedua masalah tersebut berlarut-larut
akan semakin memperparah keadaan, dan tidak jarang dapat menimbulkan
konsekuensi negatif terhadap kondisi sosial dan politik.
Masalah
kesenjangan pendapatan dan kemiskinan tidak hanya dihadapi oleh negara sedang
berkembang, namun negara maju sekalipun tidak terlepas dari permasalahan ini.
Perbedaannya terletak pada proporsi atau besar kecilnya tingkat kesenjangan dan
angka kemiskinan yang terjadi, serta tingkat kesulitan mengatasinya yang dipengaruhi
oleh luas wilayah dan jumlah penduduk suatu negara. Semakin besar angka
kemiskinan, semakin tinggi pula tingkat kesulitan mengatasinya. Negara maju
menunjukkan tingkat kesenjangan pendapatan dan angka kemiskinan yang relative
kecil dibanding negara sedang berkembang, dan untuk mengatasinya tidak terlalu
sulit mengingat GDP dan GNP mereka relative tinggi. Walaupun demikian, masalah
ini bukan hanya menjadi masalah internal suatu negara, namun telah menjadi
permasalahan bagi dunia internasional.
Berbagai
upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh dunia internasional, baik berupa
bantuan maupun pinjaman pada dasarnya merupakan upaya sistematis untuk
memperkecil kesenjangan pendapatan dan tingkat kemiskinan yang terjadi di
negara-negara miskin dan sedang berkembang. Beberapa lembaga internasional
seperti IMF dan Bank Dunia serta lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya
berperan dalam hal ini. Kesalahan pengambilan kebijakan dalam pemanfaatan
bantuan dan/ atau pinjaman tersebut, justru dapat berdampak buruk bagi struktur
sosial dan perekonomian negara bersangkutan.
Kemiskinan
adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar,
ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan
masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan
komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif,
dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai
cara. Pemahaman utamanya mencakup:
Gambaran kekurangan materi, yang
biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan
pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi
kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
Gambaran tentang kebutuhan sosial,
termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk
berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi.
Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup
masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
Gambaran tentang kurangnya penghasilan
dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat
berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
Adapun secara umum penyebab kemiskinan
diantaranya:
1. Kemalasan.
2. Kebodohan
dan pemborosan.
3. Bencana
alam.
4. Kejahatan,
misalnya dirampok
5. Genetik dan
dikehendaki Tuhan, baik genetika orang tua, tempat lahir, kondisi orang tua
yang miskin
Buku “Perekonomian Indonesia” karangan
Dr.Tulus T.H Tambunan, M.A
http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan
Komentar
Posting Komentar